Dewi Senja

dewi senja 2

Kau terbangun ..

ini memang sudah waktu mu

perlahan kau lihat atap

senyap, penat, sepi, seperti hari yang lalu

bertahan untuk mimpi di malam ini

 

Sayap putih mulai mekar di balik bahu mungil mu

suara kepak sayap itu tanda kau memang sang Dewi

yang sudah tersadar dari ruang hidupnya

ruang akhir di ujung penantian

akan kasih yang sejukkan hati

 

Apa yang sedang kau kerjakan di malam ini, wahai Dewi ?

apa yang kau bawa di dalam sangkar hijau bertahta emas itu ?

silau sukma mu pancarkan cahaya putih

apakah buah itu adalah benih cinta ?

yang ingin kau tebar di setiap langkah mu ?

 

Pelan tapi pasti …

lembut tangan mu membuka pintu itu

rumah pohon cemara pun sepi sudah kau tinggalkan

dua sayap membawa mu terbang tinggi menembus hutan

mata seorang hawa mulai berlari lincah di antara awan kelabu

 

Tugas pun telah menanti

tangan mungil itu menabur benih cinta

di setiap sudut pijakan kaki

udara dingin menafikan lelah mu

tetap kuat berdiri di tengah racun jingga

 

Malam merekah di ufuk barat

siapa Dewata yang memerintah mu menyebar benih cinta di malam ini ?

di saat langit ingin menidurkan asa setiap manusia

dan cahaya bulan mulai mendekap erat seluruh hutan

bolehkan aku mengetahui siapa Dia ?

 

Wahai Dewi …

apakah diri mu sadar aku terus memperhatikan mu ?

jiwa awam yang melihat mu dari tebing candrasengkala

ruh nelangsa yang sering tertutup kabul tebal

masih setia menatap mu selalu

di malam ini ..

 

Tak lama …

Lirik mata hawa itu mulai menatap ku dalam

dalam .. namun teduh. ..

belai jemari mu ambil satu benih cinta

dijatuhkan tepat di depan ku

inginkan aku ambil dan memilikinya

 

Dapatkah aku menanam benih cinta ini ?

menjaga tunas hijau yang kau ambil dari bukit sepi mu

dan menyemainya sewaktu kau turun kembali dari lembah surgawi ?

akan ku pastikan ia baik – baik saja

karena sekarang ia tertanam cantik dalam dasar hati ku

 

Wahai Dewi Senja …

temui aku di pesisir pantai

tempat di mana kau lahir sebagai Dewi

walau biru laut abadi ciptakan suram

bukankah jejak mu masih terpahat oleh gelombang air ?

yang masih terpaku tegar menghadapi angin tepian ?

 

Kita memang berbeda, Dewi Senja ku …

kasta langit lah pemisahnya

aku Sadewa hina sedangkan kau Bathari Uma

satu raga nestapa yang rindukan kalbu permata

berikan aku air suci mu wahai Dewi ku …

agar tunas cinta ini tetap abadi …

selamanya …

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s