Uniknya komunitas pecinta Jepang dibandingkan dengan ‘komunitas tetangga’

I_love_Japan_by_ChibiRat3019.jpg.scaled600

Kadang saya berpikir bahwa acara – acara seperti Hellofest, Cos-Gath, J-Fest, Bunkasai, Japan Matsuri, Gelar Jepang UI dsb, adalah sarana penyeimbang yang bisa memberikan kesan ‘strike back‘ plus alat kejut untuk KIMCHI (Korean idols music concert hosted in Indonesia), untuk menyadarkan mereka bahwa masih banyak komunitas – komunitas jejepangan yang tetap hidup dan masih exist ditengah serbuan Hallyu Wave yang tidak jelas ini.

Ngomong – ngomong soal Hallyu Wave, semoga Tuhan mengembalikan mereka ke jalan yang benar..

Komunitas – komunitas pecinta Jepang seperti ini adalah komunitas – komunitas yang umumnya sudah kuat, terorganisir, punya warna yang khas (saling berbeda) dan gampang diterima. Ibarat kata, mereka sudah memiliki ‘akar’ yang kuat, karena saking banyaknya segi – segi di komunitas ini yang memungkinkan kita untuk menyukai semua keunikan tentang Jepang. Sebagai contoh : Japanese Culture (Bahasa Jepang, Ikebana, Ohanami, Attitude of work / seni beladiri eg, Kendo, Karate, Aikido, Kempo, / sejarah eg, benteng Edo, Kinkakuji, Tokyou Tower), Cosplay (Anime Base, Gothic, Original, Lolita, Harajuku), Tokusatsu (all about Kamen Rider, Ultraman, Metal Hero), J-music (L’Arc~en~Ciel, Gackt, Luna Sea, DIR EN GREY dsb), Dorama (Japanese Film and Drama), Makanan (restoran Jepang kaya Sushi, Yakiniku, Bento, Unagi, Yakimeshi dsb), Industries (perusahaan asal Jepang, mobil, motor, farmasi, konsultan), Manga (banyak), Anime (lebih buanyak lagi). Nah, pertanyaannya, Anda menyukai Jepang karena apa ? karena siapa ? dari mana ? Jawabannya pasti tidak jauh – jauh dari apa yang sudah saya sebutkan diatas bukan ?

Continue reading

Advertisements

Untuk Panglima Tertinggi, Panglima Besar Djendral Soedirman :

sudirman.jpeg.scaled600

“Lapor pak, saya mawardi, dari kesatuan pejuang yang berpusat di daerah medan. Saya menghadap bapak karena saya ingin melaporkan bahwa saya, sampai detik ini masih tetap berjuang pak. walaupun terpaksa.

Saya terpaksa kembali berjuang bukan untuk melawan belanda – belanda keparat itu, atau orang – orang jepang yang sok mengaku saudara tua kita tapi menghantam kita dari belakang. Untuk kali ini, bukan mereka yang saya lawan pak. Saya hanya berjuang melawan orang – orang yang secara semena – mena sudah merebut hak saya atas sepetak tanah yang rencananya hanya ingin saya bangun rumah sederhana untuk ditinggali bersama keluarga saya pak. Hak saya sudah direbut pak, sama seperti hak merdeka bangsa kita yang dulu direbut dan di injak – injak oleh negara – negara biadab itu.

Kali ini saya ingin kembali berjuang pak. saya ingin melawan. dan saya ingin protes terhadap developer – developer besar itu yang secara sepihak mengklaim tanah saya sebagai tanah milik mereka. Padahal tanah saya tidaklah besar pak, namun mengapa mereka tega merebut tanah yang menjadi hak saya? padahal ini adalah kompleks perumahan yang dikhususkan untuk para mantan pejuang seperti kita.

Continue reading